TIADA PENGORBANAN YANG TAK BERBUAH

Oleh : Ust Ali Rosyad , SPd.I

Ketika kita mengingat satu ayat yang diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’anul Karim surat Ali Imron : 92 ternyata pengorbanan kita ini belum ada apa-apanya dibanding dengan pengorbanan Nabiyullah Ibrahim AS yang dengan ikhlas mengorbankan putra semata wayangnya demi melaksanakan perintah Allah SWT. Coba saja renungkan bunyi ayatnya itu, “ Kalian belum mendapatkan kebajikan yang sempurna sebelum kamu menyedekahkan apa-apa yang kalian cintai “. ( Q.S. Ali Imron : 92 )

Mengapa harus barang yang kita cintai ? Ya jelaslah, karena disitulah adanya pengorbanan dan keikhlasan. Mana yang lebih berat, menyedekahkan handphone yang baru atau handphone yang sudah 2 tahun dipakai ? ada perasaan berat banget ketika kita mau menyedekahkan handphone yang baru. Nah, disitu itu pointnya ! saat kita merelakan apa yang kita cintai untuk disedekahkan, disitu akan terlihat seberapa besar kecintaan kita kepada Allah SWT. Padahal Allah SWT telah berjanji, “ Dan apa-apa yang kamu infaqkan dari sesuatu, maka dia lah Allah akan menggantinya ”. ( Q.S. Saba : 39 )

Ada satu kisah yang menarik, sebut saja Wahyu namanya. Saat itu dia hanya pegang uang Rp. 400 ribu. “Mas, sudah lama kita gak kurban. Ayo tahun ini kita potong kurban mas”. Rengek istrinya yang bernama Hanifah. Sambil garuk-garuk kepala Wahyu bingung menjawabnya. Habis bagaimana, uang tinggal segitu-gitunya. Dan uang sebesar itu sangat berarti buat Wahyu dan Hanifah. Maklum, kala itu Wahyu baru mengawali usaha baru yakni tukang las keliling. Padahal sebelumnya, di tahun 90an, Wahyu tergolong orang yang lumayan ekonominya, dia menjadi orang kedua disebuah perusahaan kontraktor di Jakarta, dengan gaji yang cukup lumayan tinggi. Namun karena ambisi mendapat penghasilan lebih besar dalam bentuk dollar, membuatnya keluar dari pekerjaannya, lalu berangkatlah ia keluar negeri. “Saya bermaksud jadi TKI ke Belanda mas”, kenang pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah ini.

Sukses kakak dan sebagian teman sekampungnya di luar negeri, ternyata tak diraih oleh Wahyu. Ia terdampar disebuah perusahaan Illegal Logging di Malaysia. Pekerjaannya bagian mengangkuti kayu gelap dari Kalimantan ke Malaysia. “ini sih pekerjaan maling”, kilah Wahyu tersadar. Ia lalu nekad kabur tanpa uang sepeser pun. Walhasil, akhirnya saya dipulangkan ke Indonesia oleh agen penyalur saya. ”Karena saya mengancam akan membongkar mafia Illegal Loging itu, kalau saya gak dipulangkan ke Indonesia”, tutur Wahyu sambil tersenyum.

Dalam kapal yang membawanya pulang itulah Wahyu menyadari telah lalai mensyukuri nikmat Allah SWT. Sudah mendapat pekerjaan yang enak di Tanah Air, tapi masih memburu impiannya yang jauh. “ Ya Allah... ampuni hamba, beri hamba kesempatan agar hamba termasuk orang yang pandai mensyukuri berapapun yang kau berikan”, tutur Wahyu menyesal.

Kembali ke Tanah Air, ia meniti karier dari bawah lagi sebagai drafter ( juru gambar tehnik ). Gajinya Cuma seperlima dari gaji terakhirnya dulu. Tapi ia punya usaha jasa las sendiri.

Melihat peluang usahanya, Wahyu lalu memutuskan berhenti bekerja. Dengan modal peralatan las dan sebuah mobil pick up butut, Wahyu berkeliling melayani jasa las besi. Penghasilannya tak tentu berapa dapetnya. Makanya uang 400 ribu itu berarti banget buat wahyu.

Tapi demi cintanya pada istri, ia bersedia mengorbankan uang segitu-gitunya itu untuk membeli hewan qurban. “aku cuma punya uang 400 ribu ini, dik. Kamu carilah tambahannya biar kita bisa motong kambing qurban”, tutur Wahyu sambil menyodorkan uang pada sang istri. Subhanallah, sepekan kemudian Wahyu mendapat order senilai 40 juta. Sebuah nilai pekerjaan yang sangat fantastik buat ukuran usahanya saat itu. “ini pasti berkah pengorbanannya”, yakin Wahyu.

Sejak saat itulah, wahyu yang kini direktur CV. Andalan Maju Sukses, selalu “memancing” rejeki dengan bersedekah sebesr 10 % dari penghasilannya. Alhamdulillah, Dengan mengamalkan sedekah, usaha saya terus berkembang, ucap Wahyu bersyukur.

( by “ ALI ROSYAD” )